Rahasia Melunakkan Hati Istri

Wahai para suami!

Wanita itu sangat membutuhkan orang yang memahaminya sebelum membutuhkan orang yang membuatnya paham.

Wanita selalu membutuhkan orang yang mau mendengarkannya sebelum membutuhkan orang yang mengarahkannya.

Wanita menginginkan seseorang yang dapat melindunginya dengan aman, bukan orang yang berlatih ceramah atau pidato ketika bersamanya.

Rasulullah saw ketika menyebut wanita memilih kata Qawârîr (kaca). Bukannya tanpa makna, arti kaca ternyata menyimpan rahasia yang besar. Sesungguhnya walaupun sekuat dan sekasar apa pun ketika berinteraksi dengan sebuah kaca, kita dipaksa untuk bersikap lemah lembut agar kaca itu tidak pecah sehingga kita tidak rugi. Sesungguhnya wanita itu ditakdirkan menjadi sosok penuh cinta dan cantik dengan berbagai kepekaan emosi. Wanita secara alami bersifat romantis dan senantiasa merindukan telinga yang mau mendengarkannya, hati yang mau memahami dan mengerti perasaannya, serta tangan lembut penuh kasih yang membelai dan menimangnya. Watak dan perangai seorang istri berbeda dengan watak dan perangai seorang suami. Cara bicaranya dan cara memandang segala sesuatu pun juga berbeda. Wanita berbicara sekaligus membangun hubungan sosial. Dia menginginkan suaminya memperhatikan perkataannya. Dia ingin mencurahkan dan mengeluarkan seluruh uneg-uneg dalam hatinya dan ingin melihat suaminya melindungi jiwanya dan menyertai perasaannya. Suami romantis menurut persepsi istri adalah suami yang telinganya siap sedia mendengarkannya, tangannya penuh kelembutan kasih sayang, dan hatinya selalu melonggarkan segala impiannya. Agar lebih mudah memahaminya coba perhatikan simak kisah pendek berikut: Suatu hari Maryam berkata dengan amat marah, “Aku tak tahu apa yang diinginkan pembantu itu dariku!!?”. Imad, suaminya, berkata dengan tenang, “Apa yang terjadi ?”. “Dia selalu saja mencampuri pekerjaanku dan tak mau menghargai potensi dan kemampuanku!”, jawab Maryam. “Dia itu khan pembantu. Wajar jika ikut campur dalam tiap pekerjaan sebagaimana halnya yang dilakukan pembantu lain”, tegas Imad. “Bukan, tapi dia dia hanya ingin menegaskan bahwa aku tak mampu menyelesaikan pekerjaanku secara benar!”, jawab Maryam dengan penuh dongkol. “Saya pikir engkau hanya membesar-besarkan masalah saja. Padahal, hal itu hanyalah masalah sederhana jika kita mau meluangkan waktu untuk membicarakannya.”, jawab Imad tak peduli. Maryam dengan marah berkata: “Kau selalu saja begitu! Tak mau memahami perasaanku atau berbuat adil terhadapku.” “Ok, kau jangan lagi bicara tentang pekerjaanmu atau minta pendapatku.”, kata Imad. Kemudian keduanya saling berpaling. Sesungguhnya Maryam adalah seorang wanita yang berhajat terhadap telinga yang siap sedia mendengarkan perkataannya, hati yang peduli terhadap segala permasalahannya, dan tangan lembut penuh kasih yang membelainya. Hanya ini yang dibutuhkan Maryam pada saat itu. Akan tetapi, Imad berinteraksi dengannya melalui logika rasional sebagaimana dia berinteraksi dengan teman-temannya. Imad mengira bahwa Maryam sedang meminta nasihat atau mencari solusi dari permasalahannya. Hal ini amat berbeda dengan apa yang diinginkan oleh Maryam. Pertanyaannya, “Apa solusi terbaik yang seharusnya ditempuh Imad dalam berinteraksi dengan Maryam yang memperlihatkan adanya perlindungan?? Mari ikut bersama saya menyelami kisah Imad dan Maryam sekali lagi. Maryam berkata dengan marah, “Aku tak tahu apa yang diinginkan pembantu itu dariku??!!”. “Tenang jangan gelisah sayangku, apa yang terjadi?”, kata Imad sambil tersenyum. “Dia selalu saja turut campur dalam pekerjaanku dan tak menghargai potensi dan kemampuanku”, jawab Maryam. Imad meletakkan tangannya di bahu Maryam dan berkata: “Kau amat rajin dalam pekerjaanmu. Tak seorang pun mengingkari hal itu. Jangan sampai hal ini menghilangkan senyum manismu yang aku suka itu.” Maryam berkata, “Akan tetapi, aku merasa sempit dengan tingkah lakunya.” Dengan kasih sayang Imad berkata kepadanya, “Percayalah kepadaku, aku yakin engkau lebih bagus darinya. Apakah dia mempunyai kesungguhan dan keikhlasan seperti yang engkau punyai? Sayangku, tak ada yang perlu kau cemaskan di dunia ini. Ayolah aku ingin melihat senyummu yang manis itu.” Maryam pun menjawab dengan tersenyum, “Okelah sayangku..” Sesungguhnya perbedaan antara dua sikap di atas bukan semata-mata pada bentuk romantisme yang begitu mewarnai dalam percakapan yang kedua. Ada perkara yang lebih dalam daripada itu. Dengan pemahamannya tentang psikologi istrinya, Imad dalam sikap yang kedua mengetahui bahwa istrinya sedang mencari orang yang mampu melindunginya pada saat merasakan kesempitan, mau mendengar, dan membelainya. Pada umumnya, manusia senang apabila ada orang yang memahami perasaannya. Terlebih bila orang itu adalah belahan jiwanya, pendamping hidupnya, dan orang yang paling dekat dengannya. Hendaklah para suami mengetahui bahwa kebanyakan wanita hanya ingin dimengerti perasaannya. Sebuah kesalahan besar yang mungkin Anda lakukan adalah memotong pembicaraannya dan memaparkan problem solving atas segala permasalahan yang dia hadapi dengan mengira Anda sedang membantunya, padahal istri Anda tidak membutuhkannya. Dari sini kita tahu bahwa ada dua kesalahan terbesar yang sering kita lakukan dalam kehidupan perkawinan yaitu:

1. Istri mencoba untuk mengubah perilaku suami. Ketika suami melakukan sebuah kesalahan, istri mengkritisi dan meluruskan perilaku suaminya tanpa diminta.

2. Suami mencoba untuk mengubah perasaan istrinya ketika dia sedang dalam keadaan tertekan atau gelisah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s