MENGAJAR DAN BELAJAR DALAMSTANDAR PROSES PENDIDIKAN

MENGAJAR DAN BELAJAR DALAM

STANDAR PROSES PENDIDIKAN

Oleh : M. Azhar Latif

  1. Konsep Dasar Mengajar
    1. Mengajar sebagai prosess penyampaian materi pelajaran

      Dalam konteks mengajar sebagai proses penyampaian materi pelajaran maka mengajar mempunyai beberapa karakteristik, yaitu :

      1. Proses pengajaran berorientasi pada guru (teacher centered)
      2. Siswa sebagai objek belajar.
      3. Kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu.
      4. Tujuan utama pengajaran adalah penguasaan materi pelajaran.
    2. Mengajar sebagai proses mengatur lingkungan.

      Dalam konteks mengajar sebagai proses mengatur lingkungan maka mengajar mempunyai beberapa karakteristik, yaitu:

      1. Mengajar berpusat pada siswa
      2. Siswa sebagai subjek belajar
      3. Proses pengajaran terjadi dimana saja
      4. Pembelajaran berorientasi pada pencapaian tujuan

    Dengan memperhatikan karakteristik dari mengajar di atas, maka saat ini mengajar sebagi proses penanaman pengetahuan dirasakan sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi yang ada. Oleh sebab itu, pandangan bahwa mengajar hanya sekedar proses penyampaian pengetahuan saja harus di ubah menjadi pradigma baru yaitu mengajar adalah proses mengatur lingkungan.

    Ada beberapa alasan mengapa hal ini perlu dilakukan, yaitu:

    1. Siswa adalah organisme yang berkembang. Agar mereka dapat melakssanakan tugas-tugas perkembangannya, dibutuhkan orang dewasa yang dapat mengarahkan dan membimbing mereka agar tumbuh dan berkembang secara optimal. Jadi bila dikaitkan dengan peran guru, maka guru tidak lagi memposisikan dirinya sebagai sumber belajar tetapi sebagai pengelola pembelajaran denagn memanfaatkan siswa itu sendiri.
    2. Perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat menyebabkan saat ini belajar tidak lagi sekedar menhafalkan informasi, mengahfal rumus-rumus, tetapi bagaimana menggubakan informasi dan pengetahuan itu untuk mengasah kemampuan berpikir.
    3. Proses pendidikan bukan lagi memberikan stimulus, akan tetapi usaha mengembangkan potensi yang dimiliki.

    Dengan memperhatikan alasan di atas maka mengajar sebagai proses mengatur lingkungan dianggap paling sesuai bagi siswa, agar siswa dapat mengembangkan kemampuan dan potensi yang dimilkinya.

  2. Makna Mengajar dalam Standar Proses Pendidikan

    Mengajar dalam konteks standar proses pendidiikan tidak hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran, akan tetapi juga dimaknai sebagai proses mengatur lingkungan supaya siswa belajar. Makna lain mengajar yang demikian sering diistilahkan dengan pembelajaran.

    Pembelajaran dapat diartikan sebagai usaha siswa untuk mempelajari bahan pelajaran sebagai akibat dari perlakuan guru. Disini jelas bahwa proses pembelajaran siswa tidak mugkin terjadi tanpa perlakuan guru. Yang membedakannya hanya terletak pada peranannya saja.

    Makna pembelajaran dalam konteks standar proses pendidkan ditunjukan oleh beberapa ciri sebagai berikut:

    1. Pembelajaran adalah proses berpikir.
    2. Proses pembelajaran adalah memanfaatkan potensi otak.
    3. Pembelajaran berlangsung sepanjang hayat.
  3. Teori-teori Belajar

    Belajar dianggap sebagai proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan. Banyak teori yang membahas tentang perubahan tingkah laku. Namun demikian, setiap teori itu berpangkal dari pandangan tentang hakikat manusia, yaitu hakikat manusia menurut John Locke an hakikat manusia menurut Leibnitz.

    Menurut John Locke, manusia aalah organisme yang pasif. Dengan teori tabularasanya, Locke menganggap bahwa mabusia itu seperti kertas putih, hendak ditulisi apa kertas itu sangat tergantung pada orang yang menulisinya. Dari pandangan ini, memunculkan aliran belajar behavioristik-elementeristik.

    Berbeda dengan Locke, Leibnitz menganggap bahwa manusia adalah organisme yang aktif. Pada hakikatnya, manusia bebas untuk berbuat, bebas untuk membuat suatu pilihan dalam setiap situasi. Titik kebebasan ini adalah kesadarannya sendiri. Menurut aliran ini, perubahan tingkah laku hanyalah ekspresi yang dapat diamati sebagai akibat dari eksistensi internal yang pada hakikatnya bersifat pribadi. Pandangan ini memunculkan aliran belajar kognitif-holistik.

    Perbedaan aliran behavioristik dan kognitif dapat dilihat pada tabel berikut:

    No

    Teori Belajar Behavioristik

    Teori Belajar Kognitif

    1

    Mementingkan pengaruh lingkungan Mementingkan apa yang ada dalam diri

    2

    Mementingkan bagian-bagian Mementingkan keseluruhan

    3

    Mengutamakan peranan reaksi

    Mengutamakan fungsi kognitif

    4

    Hasil belajar terbentuk secara mekanis.

    Terjadi keseimbangan dalam diri

    5

    Dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu

    Tergantung pada kondisi saat ini

    6

    Mementingkan pembentukan kebiasaan

    Mementingkan terbentuknya struktur konitif

    7

    Memecahkan masalah dilakukan dengan cara trial and error

    Memecahkan masalah didasarkan kepada insight

    8

    Teori-teori belajar yang termasuk :

             Koneksionisme (Thorndike)

             Classical conditioning (Pavlop)

             Operant conditioning (Skinner)

             Systematic behavior (Hull)

             Contiguous conditioning (Guthrie)

    Teoi-teori belajar yang termasuk :

             Teori Gestalt (Kofka, Kohler, Wertheimer)

             Teori Medan (Lewin)

             Teori Organismik (Wheeler)

             Teori Humanistik (Maslow dan Rogers)

             Teori Konstruktivistik (Jean Piaget)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s